Perjalanan ini melewati drama yang
cukuppp panjang, mulai dari pengurusan Visa yang sempat membuat galau, izin cuti
yang menegangkan hingga pertemanan juga diuji. Well... Tapi itulah
kehidupan, selalu disuguhkan dengan Drama dan pasti ada hikmah dibalik drama
tersebut untuk dijadikan pelajaran :)
Rasa penasaran saya akan kota kecil yang terletak di Jalur Sutera
membuat saya merubah Itinerary di detik-detik terakhir menjelang keberangkatan
dan mulai mencari informasi bagaimana bisa sampai disana. Bermodalkan tiket
penerbangan yang saya miliki Jakarta – Kuala Lumpur – Xi’an dan Hong Kong –
Kuala Lumpur – Jakarta.
Penerbangan dari KL ke Xianyang memakan waktu sekitar 5jam.
Disebelah saya duduk seorang bapak yang sudah berumur, namanya Lee, berasal
dari Singapura. Dia memulai pembicaraan dan saat itu juga kami berbincang
panjang. Dia menjadi teman baik selama turbulence di dalam pesawat. Pak Lee bercerita tentang banyak hal,
salah satunya mengenai Sejarah dan Politik. Pak Lee mengetahui sosok Jokowi dan
dia menaruh harapan sama seperti Rakyat Indonesia, membuat Indonesia menjadi
lebih baik. Pak Lee juga sedikit bercerita tentang Cina kepada saya. Tempat
yang kami kunjungi saat ini dulunya bernama Xianyang yang berarti Long Peace,
tapi sekarang menjadi Xian saja. Dia terbiasa traveling ketika masih muda
karena pekerjaannya sebagai pengusaha. Pak Lee mengetahui Indonesia dengan
sangat baik, Saya terkagum dibuatnya.
Pesawat mendarat pukul 23:40hrs di Bandara Xianyang. Kami sempat
mencari tempat makan yang masih buka, tapi sekedar informasi saja bahwa tidak
ada tempat makan yang buka di Bandara Xianyang saat itu. Toko-toko buka hingga
pukul 22.00hrs saja, akhirnya saya dan pak Lee memutuskan pergi ke kota untuk
makan dan cek in kamar lebih awal. Bus dari Bandara menuju West Gate adalah 25
RMB dan Taksi dari West Gate ke Hostel (North Gate) seharga 30RMB (15RMB/org).
Lain kali kalau ke Xian, lebih baik tinggal di daerah West atau yang berdekatan
dengan Muslim Square. Penginapan kami berada di North Gate dan harga 1 bed
adalah 70 RMB (mixed dormitory).
Xi'an merupakan Ibu Kota Provinsi Shaanxi yang terletak di Cina bagian Baratlaut. Sebagai salah satu kota tertua di Tiongkok, Xi'an adalah salah satu dari Empat Ibu kota Kuno Tiongkok karena kota ini telah menjadi pusat pemerintahan banyak dinasti-dinasti Tiongkok yang paling berpengaruh, termasuk Zhou, Qin,Han, Sui, dan Tang. Xi'an adalah titik paling timur dari Jalan Sutra dan dikenal sebagai situs bersejarah Prajurit Terakota dari masa Dinasti Qin. Kota Xi'an memiliki sejarah lebih dari 3.100 tahun dan dikenal sebagai Chang'an sebelum era Dinasti Ming.
Xi'an merupakan Ibu Kota Provinsi Shaanxi yang terletak di Cina bagian Baratlaut. Sebagai salah satu kota tertua di Tiongkok, Xi'an adalah salah satu dari Empat Ibu kota Kuno Tiongkok karena kota ini telah menjadi pusat pemerintahan banyak dinasti-dinasti Tiongkok yang paling berpengaruh, termasuk Zhou, Qin,Han, Sui, dan Tang. Xi'an adalah titik paling timur dari Jalan Sutra dan dikenal sebagai situs bersejarah Prajurit Terakota dari masa Dinasti Qin. Kota Xi'an memiliki sejarah lebih dari 3.100 tahun dan dikenal sebagai Chang'an sebelum era Dinasti Ming.
Berfoto di depan Benteng bersama Pak Lee dari Singapore.
Roti yang banyak dijual dan halal
Sarapan pagi di Xi'an segini hanya merogoh kocek 7 RMB
a glimpse of how some people crossed the street
City Wall, North Gate, Xi'an
Bell Tower, Xi'an
Bell Tower, Xi'an
Bell Tower, Xi'an
Bell Tower, Xi'an
Met new gorgeous friends in Xi'an
Ada
cerita lucu dibalik foto bersama 3 orang teman baru yang saya kenal di hostel
tempat saya menginap. Berawal dari memesan Bir lalu saya duduk sendirian di Bar
Hostel saya menginap. Lagi enak makan dan minum, ada beberapa orang berbeda
yang silih berganti duduk di meja saya. Ada 2 orang perempuan datang dan
berbicara dalam bahasa Mandarin, saya bengong dan bilang sorry I dont speak
Chinese, mereka senyum dan langsung salah tingkah. Mereka bilang
sorry dan saya menjawab no problem. Kemudian duduklah mereka. Begitu meja
sebelah ada yang kosong, mereka langsung ngacir dan bilang thank you. Lanjut
makan lagi, setengah jam kemudian ada lelaki datang dan bilang (sependengaran
saya: would you like to switch? Heh??? Spontan saya kagett, apa maksud ini
bocahh koq minta switch? Lalu saya menjawab: do you want to switch the table? Dia
bilang: my friend, 2 girls want to meet you. Saya: hah?? Meet? Dia mengatakan
the girls were sitting with you here. Hahahahaa... Hampir tertawa di tempat, saya
bilang saja: oowwhh I know. Kemudian dibawalah ke meja mereka duduk. Mereka
malu-malu beberapa detik saja setelahnya akrab.
Tujuan
utama perjalanan saya ke Cina adalah mengunjungi Rainbow Landforms dan Sand
Dunes (Gurun Gobi). Pada bulan December 2012 saya sudah mengunjungi Palace dan
Terracota Warriors, jadi saya putuskan mengeksplor pusat kota Xi'an dan Benteng
Kota saja. Perjalanan menuju Jalur Sutera dan Gurun Gobi dimulai dari
Xi'an, lalu menuju Zhangye menggunakan Kereta Api dengan harga ticket
275 RMB (hardsleeper, lower berth) selama kurang lebih 13-14jam.
berpose tepat di depan Stasiun KA Xi'an bersama Ca
Kaget bukan main ketika naik dan mendapati kasur yang berantakan seperti ini. Petugas KA lupa membersihkan kasur ini disaat penumpang sebelumnya turun.
Jalur kereta Api banyak melewati dan
membelah gunung. Terowongan panjang pertama terasa begitu sakit ke telinga,
seperti ada tekanan. Saya melihat penumpang di depan, ternyata juga mengalami
hal yg sama. Dia menutup kedua telinganya, ntah itu efektif atau tidak. Yang
jelas dia melakukannya dan menitip anaknya kepada sang suami. Ada hal lain yang
membuat penasaran, pakaian si anak sangat tebal tetapi kenapa bagian pantat dan
burungnya disobek ya? Saya langsung membayangkan kalau anaknya buang hajat
disini tiba-tiba? Alahmakkkk... Pasti berantakan kemana-mana tuhh. Semakin jauh
saja khayalan ini... Sudahlah, tidak ingin membayangkan dan tidak mengharapkan
hal itu terjadi. Keluarga ini belum berhenti mengunyah dari sejak naik, mereka
lahap sekali ngemil makanan dan buah.
Akhirnya saya tiba di stasiun
kota Zhangye pukul 2pagi. Dinginnyaaaaa minta ampunnnnnnn. Saya berjalan menuju pintu keluar dan saya
pikir bisa masuk lagi ke ruang tunggu, ehhhh ternyata tidak bisa masuk lagi,
hahahaha. Karena saya tidak tahan udara dingin, saya pun sibuk mencari tempat
gratis untuk menghangatkan badan. Saya melihat ada ruang yang bersebelahan
dengan ruang keberangkatan, langsung saja saya masuk. Ternyata tempat penjualan
tiket. Ahhh.. Paslah kalau begitu, kebetulan saya belum membeli tiket dari
Dunhuang ke Lanzhou dan dari Lanzhou ke Guangzhou. Berbekal tulisan Mandarin yg
dituliskan pegawai hostel dan Ca, saya mulai berbicara dengan si petugas
ticket. Sepatah dua patah dia berbicara bahasa Inggris hingga kemudian dia
berbicara bahasa Mandarin nonstop dan saya terpelongok, hahaha. Terdengar suara
pria dari barisan belakang dan menterjemahkan maksud si petugas ke dalam bahasa
Inggris. Wow... Senangggnya bukan main. Beres juga urusan tiket, tapi tiket
dari Lanzhou ke Guangzhou tidak sesuai dengan harapan. Keberangkatan siang
sudah tidak ada lagi, padahal kemrin masih banyak. Arghhhhh.... Saya akan
menghabiskan 38jam padahal KA siang cuma 30jam, hikss. Sudahlah, nasi sudah
jadi bubur. Sekarang saya duduk melantai di ruang penjualan tiket, dinginnya
udara sangat terasa. Saya menunggu bus beroperasi mulai jam 7.00hrs yg akan
mengantarkan saya ke bus lainnya menuju Danxia. Doakan saja agar semuanya
lancar. Amin.
Udara semakin dingin dan saya
tidur diatas lantai, tidak ada kursi di ruangan ini membuat kulit saya kembali
gatal. Jam 6 pagi semua yang tidur di lantai harus bangun. Cleaning service
berteriak dari pintu masuk sambil melancarakan sapu dan kain pelnya, saya
segera berdiri dan bergeser ke sudut lainnya. Jam 6.55hrs saya memberanikan
diri bertanya ke petugas tiket KA, dengan harapan dia tau dimana saya harus
menunggu bus nomor 1. Ternyata dia ceramah panjang dalam bahasa Mandarin, pupus
harapan untuk dapat petunjuk darinya. Saya kembali berfikir dan
coba cari jalan, mau keluar tapi masih gelapp sekali. Jam 7.40hrs saya
memberanikan diri pergi keluar melawan udara superr dingin, berlari seperti
kura-kura. Hahha.
Ruangan tempat saya berteduh dan melantai di kota Zhangye
Kota Zhangye merupakan Kota
Kecil yang terletak jauh di Barat Provinsi Gansu. Di utara berbatasan Inner
Mongolia dan Qinghai di Selatan. Zhangye memiliki luas 42.000 km2 (16.000 mil²)
dengan banyak sungai, sinar matahari berlimpah dan tanah yang subur, sehingga
menjadi pusat pertanian yang penting untuk Gansu dan seluruh Cina. Taman Geologi
Nasional Danxia, meliputi wilayah seluas 510 kilometer persegi (200 mil
persegi), terletak di Kabupaten Linze dan Sunan, Zhangye, 30 kilometer (19 mil)
di Tenggara pusat kota. Dikenal dengan Formasi batuan yang berwarna-warni,
telah dipilih oleh outlet media Cina sebagai salah satu bentang alam yang
paling indah di Cina.
Edisi jelimet dimulai, saya berlari kearah bus nomor 1 dan dikerumunin banyak manusia. Tidak pakai bertanya, saya langsung masuk ke dalam bus dengan membayar 2 RMB. 5menit kemudian mencari orang yang bisa ditanya. Kebetulan ada perempuan yang berangkat kerja, saya memperlihatkan tujuan yang ditulis dalam bahasa Mandarin kepadanya. Dia tau tapi dia lupa menyuruh saya turun, ketika terlihat gedung ICBC saya berinisiatif turun. Kebingungan kembali datang, saya mencari halte bus nomr 4 tapi tidak ada. 2 orang yang saya tanya dan semua menjawab dalam bahasa mandarin, hahahaha. Ampuunnnn.... Bingung harus bagaimana lagi, saya mengikut arahan si ibu kedua saja. Tidak jauh dari bank ICBC ada Dicos (makanan cepat saji) kebetulan lapar dan pengen pipis sekaigus memanaskan badan. Kuliit dikaki sudah merah seperti digigit nyamuk, nampaknya tidak tahan sama dinginnya udara disini.
Edisi jelimet dimulai, saya berlari kearah bus nomor 1 dan dikerumunin banyak manusia. Tidak pakai bertanya, saya langsung masuk ke dalam bus dengan membayar 2 RMB. 5menit kemudian mencari orang yang bisa ditanya. Kebetulan ada perempuan yang berangkat kerja, saya memperlihatkan tujuan yang ditulis dalam bahasa Mandarin kepadanya. Dia tau tapi dia lupa menyuruh saya turun, ketika terlihat gedung ICBC saya berinisiatif turun. Kebingungan kembali datang, saya mencari halte bus nomr 4 tapi tidak ada. 2 orang yang saya tanya dan semua menjawab dalam bahasa mandarin, hahahaha. Ampuunnnn.... Bingung harus bagaimana lagi, saya mengikut arahan si ibu kedua saja. Tidak jauh dari bank ICBC ada Dicos (makanan cepat saji) kebetulan lapar dan pengen pipis sekaigus memanaskan badan. Kuliit dikaki sudah merah seperti digigit nyamuk, nampaknya tidak tahan sama dinginnya udara disini.
Legaaa rasanya selesai makan dan ritual
di kamar mandi. Toilet kali ini mantap, bersih. Pengunjungnya juga baru tiga
orang. Saya kembali berjalan menuju halte bus No.4. Terlihat bus no.4 lewat
lalu saya mengikutinya hingga tiba di halte yang tidak jauh dari Dicos. Bus No.1
juga lewat sini, hahaha... Tau gitu mah saya tidak turun di ICBC. Halte ini
tepat berada di depan NCI (Bank of China) dan dilalui banyak bus. Ketika bus
datang, saya segera menyiapkan kertas jimat supaya Pak Supir tau tujuan saya.
Saya cukup membayar 1RMB saja. Puji Tuhan... Sewaktu disuruh turun saya sedikit
kaget, Pak Supir bilang itu terminalnya sambil menunjuk kearah seberang. Hah??
Saya bingung.... Mana terminalnya? Dengan wajah agak bingung sayapun turun dan
menyebrang jalan. Dalam hati ini kok mirip rumah makan ya?? Ketika masuk
ternyataaaaa iyaaaaa benarr West Bus Station, hahaha. Soalnya tidak terlihat
seperti terminal. Lebih mirip RM Padang. Harga ticket menuju Danxia adalah 10
RMB dan sialnya saya dapat keberangkatan jam 12, padahal jam 9.45hrs saya sudah
di terminal. Petugas ticket mengatakan jam keberangkatan bus terakhir dr Danxia
ke Zhangye adalah jam 17.00hrs. Artinya saya cuma punya waktu 3 jam saja di
Danxia.
West Bus Station (Terminal Bus)
Tiket dari West bus Station Zhangye ke Danxia
Tempat Penitipan Barang ini tutup jam 8.30pm dan harganya
adalah 8RMB
Bus berangkat pukul 11.30hrs dari West
Bus Station menuju Danxia. Perjalanan dari Zhangye ke Danxia National
Geological Park sekitar 45 menit lah. Ketika memasuki tulisan Danxia, saya
langsung sibuk bertanya ke penumpang sebelah dan kondekturnya, hahaha. Mereka
bilang iya, sedikit lagi sampai. Ternyata ada 3 anak muda yang turun juga. Dua
orang saling kenal, satunya lagi tidak. Saya bertanya 2 orang yang saling kenal
'are u guys going to Danxia Rainbow Landforms?' Yg satunya diem, satunya
jawab iya. Tanpa basa basi saya langsung bilang, can I join you guys? Dia jawab
sure... Gayung bersambut ternyata, hahahaa. Namanya Ricky dan Chen Tau, si
Ricky yg pendiam dan Chen yg selalu ngobrol dengan saya. Chen ini pernah
tinggal di London, Inggris selama 1tahun, pantesan saja bisa cas cis cus
Inggrisnya. Selesai touring Danxia, kami bergegas menuju pintu keluar dan
menunggu bus ke Zhangye. Ya ampunnnn... Temperatur yg tadi asik2 saja berubah
menjadi super dinginnn. Hedehhh..... Tangan kesemutan lagi nihh dan bus belum
datang juga, Chen dengan baiknya memberikan makanan mereka kepada saya ditambah
plain youghurt. Xie xie Chen & Ricky. Ternyata malam nanti mereka juga
berangkat ke Dunhuang.
Pintu masuk ke Rainbow Hills, Danxia
Mobil yang disediakan untuk pengunjung mengelilingi Rainbow Hills
Teman baru: Chen dan Ricky
Persimpangan menuju Danxia Rainbow Hills
Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya si bus datang
juga. Busnya padat, saya, Ricky dan Chen dapat bangku tempel yang super mini.
Beberapa kali kepala sayapun terjungkal kebelakang karena rasa ngantuk, tetap
pasang muka pede aja. Kami berpisah di west bus station, saya harus mengambil
cangkang (backpack) kembali dan mereka harus membeli tiket Zhangye - Dunhuang malam
ini. Saya berjalan kaki mengitari kota Zhangye yang bisa saya lewati saja.
Disini dingin sekalii, sudah banyak keringat di kaki ini, sekali dibuka
langsung pada matii nyiumnya, terakhir mandi itu 2hari yg lalu *tapi tetap
wangii koq* haha.
Stasiun KA Zhangye
Setelah menunggu sekian jam, akhirnya Kereta tiba. Kereta
Api terlambat 15 menit dari jadwal (masih mending yahhh). Sebelum naik KA, saya
bertemu lagi dengan Chen dan Ricky. Chen dengan sumringah menyapa sedangkan
Ricky hanya melirik dengan muka datar. Lalu saya mencoba menyapanyaa dan dia
hanya senyum garing saja, dalam hati ini 'what is wrong with this guy? Awalnya
saya mengira dia pemalu, tapi lama-lama koq agak ngeselinn yaah. Chen melihat
tiket saya dan bertanya ke petugas KA dimana saya harus menunggu, sayapun
melirik kearah Ricky dan mendapatinya sedang diam seribu bahasa pasang jarak
dengan kami berdua, instinct saya mulai bekerja dengan baik. Sepertinya Ricky
tidak suka dengan kedatangan orang asing diantara mereka, tetapi bingung mau ngomong
apa kepada Chen karena Chen sangat senang membantu dan ngobrol. Saya langsung
bilang terimakasih kepada Chen dan meninggalkan mereka berdua.
Kali ini saya mengambil Hard Seater seharga 81RMB karena perjalanan cuma 8 jam lagipula saya belum pernah mencoba hard seater jadi apa salahnya kalau mencoba. Banyak yang bilang tidak nyaman dan ketika saya lihat di website, sumpekkk dipenuhi orang berdiri dan duduk dilorong-lorong. Karena ticket sudah dibeli, maka mental dan nyali sudah saya siapkan. Saya berlari menuju gerbong 18 agar tidak kedinginan. Setibanya di gerbong saya kaget, senang dan sumringah. Gerbongnya sepi, jadi bisa tidur dan bebas memilih nomor, hahahaha. Cuma duduk beberapa menit saya langsung tertidur, niat makan mie instant dan jajanan yang sudah disiapkan gagal dehhh. Terbangun sekitar jam 3 pagi karena udara dinginnnn yg menggigit sampe ke tulang dan dada. Jaket yg tadinya dilepas segera saya pakai dan bajupun di double. Ya Tuhan, benar-benar dinginnn. bahkan saya harus menempelkan kaki di pemanas kereta dengan posisi tidur. Tapi udara dingin masih menembus.
Kali ini saya mengambil Hard Seater seharga 81RMB karena perjalanan cuma 8 jam lagipula saya belum pernah mencoba hard seater jadi apa salahnya kalau mencoba. Banyak yang bilang tidak nyaman dan ketika saya lihat di website, sumpekkk dipenuhi orang berdiri dan duduk dilorong-lorong. Karena ticket sudah dibeli, maka mental dan nyali sudah saya siapkan. Saya berlari menuju gerbong 18 agar tidak kedinginan. Setibanya di gerbong saya kaget, senang dan sumringah. Gerbongnya sepi, jadi bisa tidur dan bebas memilih nomor, hahahaha. Cuma duduk beberapa menit saya langsung tertidur, niat makan mie instant dan jajanan yang sudah disiapkan gagal dehhh. Terbangun sekitar jam 3 pagi karena udara dinginnnn yg menggigit sampe ke tulang dan dada. Jaket yg tadinya dilepas segera saya pakai dan bajupun di double. Ya Tuhan, benar-benar dinginnn. bahkan saya harus menempelkan kaki di pemanas kereta dengan posisi tidur. Tapi udara dingin masih menembus.
Stasiun Kereta Api Dunhuang
Jam 8pagi saya tiba di Stasiun Dunhuang. Stasiun disini jauh lebih baik dibanding stasiun KA di Zhangye. Informasi lisan dan tulisan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris di Dunhuang Railway Station. Saya berjalan menuju pintu keluar dan menyaksikan banyaknya manusia yg menawarkan taksi dll. Fokus saya adalah mencari orang yg membawa kertas yang bertuliskan nama saya disitu. Chen kembali memanggil dan bertanya bagaimana saya menuju ke Hostel. Lalu dia mencari orang yang membawa papan nama dan menemukannya. Chen memutuskan ikut menginap di hostel ini. Mereka menyediakan jasa penjemputan dengan biaya 5 RMB. Worth it lah harga segitu. Setibanya di penginapan kami chek in, pihak hostel menawarkan paket tour. Chen menawarkan saya untuk ambil bareng mereka tapi saya memutuskan tidak mengambilnya. Saya akan pergi ke Sand Dunes (Gurun) naik bus umum saja dan jalan kaki ke tempat-tempat bagus di kota Dunhuang. Dan nampaknya mereka butuh ruang berdua saja. Saya ingin menjelajah sendirian, siapa tahu ketemu teman baru lagi. Bergegass menuju kamar mandi, sudah 2hari lebih nih tidak mandi. Astagaaa... Betapa kagetnya ketika masuk kamar mandi meihat pintu toilet yg terbuka lebar, saya menemukan ranjau tak bertulang. Siapa pula ini pelakunya, jorok sekali, Sial...
Peta manual (ditulis tangan) oleh pihak Hostel cukup membantu, dilengkapi dengan tulisan Mandarin. Langsung saja saya foto menggunakan camera, praktis dan efisien. Hahaha. Berjalan keluar dan mengikuti arah... Ehhh malah menggantung ketika di persimpangan, pantas sajaa nyasar... Petanya keseleo, Harusnya belok kiri malah dibuat ke kanan. Okaylah, akhirnya dapat juga nih bus nomor 3. Sekedar info, ongkos dari sini ke Ming Sa Sang ( Sand Dunes) itu 1RMB dan perjalanannya cuma 15 menit. Uang masuk Ming Sa Sang adalah 120 RMB (mahall juga yahh).
Foto-foto narsis dimulai, haha. Maklum,
belum pernah liat pasir sebanyak ituuu. Mereka menyediakan kendaraan untuk
dinaiki pengunjung dan dibawa ke Ming Sa Sang, tetapi tidak gratis. Jarak pintu
masuk ke Ming Sa Sang itu sekitar 1,5km. Mereka juga menyediakan Lama (binatang
yg mirip onta) untuk dinaiki dan pengelola juga menyediakan sewa pelindung
sepatu, kalau tidak salah tadi saya lihat harganya 15RMB/pasang. Saya lebih
memilih jalan kaki dan untungnya pake sepatu boots, jadi aman deh lebih hematt,
hahaha.
Ming Sa Sang
Ming Sa Sang
Ming Sa Sang
Kendaraan yang mereka sediakan untuk anda yang tidak kuat mendaki Gurun
Ketemu teman baru, ini orang yang meneriaki semangat waktu saya naik, hahaha.
Reached the top of this Desert
Saya mencoba naik ke puncak gurun pasir, lama rasanyaa tiba
diatas. Baru separuh jalan saya sudah keookk, tidak berani melihat kebawah.
Hahaha. Dua orang pria di belakang berteriak menggunakan bahasa Mandarin, ntah itu
artinya apa. Yg jelas mereka berbicara ke saya. Dia melihat saya sering
berhenti dan memberikan semangat, so sweet bangettt. Hahaha. Mereka antri
dibelakang, jadi saya harus tetap naik. Menapak tanpa melihat kebawah dan
akhirnyaaaa sampai jugaa dengan nafas terengah-engah, kaki pegalllllll bukan main.
Terbayarkan dengan melihat keindahan Gurun Gobi tersebut. Puas bermain pasir,
saya melihat jam sudah pukul 16.20hrs. Wahh harus bergegas pulang nihh, soalnya
bus terakhir jam 5 sore kalau ketinggalan mampus bayar taksi bisa 50 RMB. Saya
melihat 1 bus terparkir dan langsung berlari. Nafas tambah sesakkk dan kali ini
benar2 keringat bercucur.
Tiba di kota, saya langsung turun di halte yg saya sendiri tidak tahu. Tapi
karena kotanya kecil, tidak jadi maslah lah. Saya menjajaki setiap jalan dan
sudut kota Dunhuang sambil jeprat jepret camera. Malam ini saya tutup dengan
makan di Night Market, hoorreeee
Mesjid di kota Dunhuang
Good morning universe... Pagi ini saya dibangunkan oleh suara orang sedang berkemas barang ke dalam ransel dan membereskan seprai + sarung bantalnya. Chen dan Ricky akan berangkat ke Ming Sa Sang (Sand Dunes). Chen menanyakan bagaimana sore ini, mau berangkat ke stasiun jam berapa? Kami sepakat ketemuan di Hostel jam 6 sore. Setelah mereka pergi, salah satu penghuni kamar mendekati saya dan berbicara 'you dont speak chinese?' dengan aksen dan inggris yg terbatah-batah. Lalu saya bilang I am sorry I don't. Kami berdua sama-sama bingung. Hingga akhirnya saya tanya darimana asalnya? Kemudian lanjut ke canda tawa karena bahasa campur sari, hahahaha. Kami bertukar email dan berfoto bareng. Namanya Li dan dia mahasiswa di universitas provinsi Shandong. Li sedang berlibur kemari, dia baru saja berkelana dari provinsi Qinghai. Hampir semua traveler yg saya temui adalah berasal dari Cina. Anak-anak muda Cina sekarang sangat suka bepergian. Kemarin juga saya ngobrol dengan Gadis asal Chengdu yg mempesonaku lewat bahasa Inggrisnya. Li pamit chek out duluan dan saya menyusul satu jam kemudian.
Rute saya hari ini adalah mengunjungi Moggao Cave, si cewek
Chengdu mengatakan sangat bagus dan seperti Angkor Watt. Jadi yg terbayang
diotak adalah Temple dan luasssss. Mengikuti arahan receptionist yg di hostel,
dan akhirnya nyasarrrr kemana2 hahahaha. Itu direction ga update, katanya lampu
merah pertama belok ke kanan terus jalan hingga ketemu bus warna hijau. Ketemu
memang, tapi tidak mau berhenti karena tidak ada halte. Hahaha. Saya kembali
jalan kearah awal, lalu bertanya pada satu orang yg tidak mengerti Bahasa
Inggris, beruntung saya meminta si receptionist menuliskan tujuanku dalam
bahasa Mandarin jadi sedikit terselamatkan. Si pria itu menyuruh saya belok kanan
dan tanya orang lain lagi. saya ikuti instruksinya dan melihat beberapa bus
Warna Hijau terparkir. Sayapun berlari dan bertanya apakah ini benar ke Moggao
Cave? Pak supir bilang Tidak setelah beberapa kali mengatakan wo putong.
Hahahaha. Dia menelpon teman seprofesinya dan dia menuliskan plat nomor bus
temannya tersebut. Lalu dia meminta saya menyebrang dan jalan sampai menemukan
bus dengan nomor plat yang tertulis dikertas, seperti dihipnotis saya mengikuti
saja instruksinya. Kemudian saya melihat ada bus hijau lagi dengan nomor 12.
Saya masuk dan bertanya kepada pak supir, dia bilang tunggunya disebelah sana
(menunjuk kearah saya datang tadi. Dalam hati, tadi disana suruh kemari,
sekarang disuruh kesana. Bahh.. Ga jelass nihh). Dalam keadaan bingung saya
berdiri dan celingak-celinguk. Tidak lama, datang bus hijau nomor 12 dan
berhenti, si supir langsung turun seperti sedang mencari orang. Nomor platnya
sama dengan yg ditulis di kertas. Owhh.. dia langsung tau meminta saya naik.
Akhirnyaaa.... Hahahahha. Please note: Bus hijau nomor 12 ga semuanya ke Mogao
Cave yah. Ada juga yg ke Stasiun Kereta Api.
Tiba di Magao Cave, saya turun dan membayar 3RMB. Setelah mengambil foto bus dan pengumuman jadwal bus terakhir, saya berjalan menuju ticket office. Betapa kagetnya lihat bentuk Mogao Cave & harga tiket masuk 160 RMB. Dasar ga mau rugii.. Hahaha. Kata si cewek kemarin seperti Angkor Watt, ternyata lebih mirip ke Museum. Dengan harga segitu, saya memilih tidak jadi masuk, sayang duitnya... Mau beli ole2 aja.
Foto: Moggao Cave, Dunhuang
Saya memutuskan kembali ke Bus dan bertanya ke si bapak supir, jam berapa bus berangkat ke Dunhuang City? Dia bilang putong, saya langsung bergerak cepat menunjuk ke tangan sambil bilang time. Dia mengerti dan mengeluarkan jadwalnya, bus berangkat jam 1. Okay, saya minta ijin ke dia untuk duduk di dalam bus dia bilang oke. Saya duduk di bangku paling depan, pas disebelah pak supir. Si bapak ngomong dalam bahasa Mandarin dan saya tidak mengerti, kami sama-sama tertawa lebar. Saya bilang Indonesia, dia tidak paham. Saya bilang lagi Intonesia (pake t) baru dia paham, hahaha. Saya tanya saja namanya siapa, sambil mengeluarkan hp dan ketik name translate ke Mandarin. Dia ketawa ketika membaca mingming. Lalu dia sebutkan namanya Wou. Terdengar lagu olahraga yg diputar di parkiran, i er san (1,2,3). Saya menirukan i er san dan dia bilang saya bisa. Kemudian diajarkan 1 sampai 10, lalu saya keluarkan kata-kata dalam bahasa Mandarin yg saya bisa. Kamipun tertawa lebar berdua didalam bus, hahahaha. Hari yg menyenangkannnnn.
Kembali ke Dunhuang City, Setelah melihat Mogao Cave dari luar tadi, Saya turun di Sha Zhou Market (night market) untuk beli jajanan. Saya beli daging ditusuk yg tampilan dari luarnya mirip Sate cumi, pas digigit ternyata bukan cumi, ntahlah daging apa itu pokoknya sudah saya makan dan tidak usah dibahas (takut menerima kenyataan pahit) hahaha.
Setelah jajan, saya masih lapar dan ngidam Dicos, ayam Dicos selalu membayangi. Mencari tanpa tau pasti dan berjalan mengikuti kata hati. 15 menit kemudian ketemu... Hahaha. Makasih Tuhan, akhirnya merasakan Ayam Dicos yg selalu terbayang.
Selesai makan saya langsung balik ke Hostel untuk menikmati free wi fi, lumayanlah buat chat dan sos-med sembari mencari penginapan murah di Hong Kong. Chen bilang ketemu di Hostel jam 6 lalu ke Stasiun bareng, tapi kok saya tidak melihat tasnya dititip yah? Saya menunggu hingga jam 5.30pm, mereka tidak datang juga. Saya bertanya kepada receptionist jam berapa bus terakhir menuju stasiun KA? Dia bilang 6pm.... Alahmakkk... 30menit lagi, tanpa basa basi saya langsung beranjak pergi menuju pangkalan bus Hijau nomor 12, daripada bayar Taksi 30RMB sendirian. Busnya padat sekali, bahkan bangku tempel super mini dikeluarkan untuk penumpang. Pokoknya semua desak-desakan dan tidak ada jalan menuju pintu keluar. Bus ini tidak menggunakan tiket, langsung bayar ke kondekturnya. 15menit saja sudah sampai di Stasiun KA Dunhuang dengan membayar 3RMB. Tiba di Stasiun KA Dunhuang saya langsung foto-foto dan masuk kedalam. Tiket KA menuju Lanzhou berangkat pukul 20.12hrs, Hard Sleeper seharga 261RMB. Saya tidak bertemu dengan Chen dan Ricky, tadi pagi pertemuan terakhir kami liburan ini. Pengen pipis tapi takut.... Hahahaha. Toilet di Dunhuang lebih bersih ketimbang toilet di Stasiun KA di kota Zhangye.
Stasiun KA Dunhuang, Au Revoir
Ruang tunggu Stasiun KA Dunhuang untuk kelas Soft Sleeper
Naik KA on time, sayapun duduk manis setelah menemukan lokasi Hard Sleeper. Perjalanan dari Dunhuang ke Lanzhou sekitar 14jam. Takjub melihat penumpang-penumpang disini bawa barang, seperti digusur. Tetangga saya kali ini 2 orang cewek masih muda dan 2 orang sudah separuh baya (suami istri). Si cewek berdua ini sepertinya kakak adik, barang mereka yg seabrek menguasai semua lapak, bahkan saya tidak punya lahan untuk meletakkan tas di lantai. Dua gadis ini meminta maaf, karena mengambil semua lapak, saya bilang tidak apa-apa (jangan harap percakapan ini dalam bahasa Inggris yahh, ini menggunakan bahasa masing-masing saja) hahaha. Petugas KA datang dan meminta mereka merapikan barang, karena plastik mereka menyentuh mesin pemanas. Berbahaya klo terjadi kebakaran. Si petugas mengangkat barang-barang mereka, kebetulan petugas yg mengangkatnya adalah pria dan berwajah tampan. Si gadis dua ini langsung sibuk motoin si petugas dan kegirangan membuat si petugas supaya lamaa berada di dekat mereka #modus, hahahaha
Setelah barang-barang rapi, saya memilih duduk di kursi lipat dekat jendela. Disana ada seorang ibu parlente yg sedang duduk mengobservasi sekitar. Saya duduk tepat di depannya, muka si ibu sih agak jutek yah kelihatan dari luar. Tapi kaget sewaktu dia menawarkan Kuwaci, saya bilang No Thank you. Dia bilang Hauce, saya ucapkan xie xie ni. Kamipun kembali diam. Dia masuk ke kamarnya, kemudian mengambil 2 buah apel. Langsung tanpa a i u e o dia menyodorkan apelnya ke saya. Oke saya ambil dan pergi kebelakang untuk mencuci apel, si ibu menawarkan pisau. Saya jawab no problem, I will eat this. Sambil makan apel, si ibu ngomong lagi menggunakan bahasa Mandarin. Saya tidak mengerti sama sekali dan menjawab I dont know, dia tidak paham juga. Lalu saya bilang saja wo putong. It works mennnn... Hahaha. Percakapan tidak berhenti, saya bisa menangkap setiap maksudnya dan menjawab dalam bahasa Inggris sangat pelan didukung oleh bahasa tubuh. Kami berdua tertawa terbahak-bahak membuat penumpang lain menaruh perhatian terhadap kami. Bagaimana tidak, dia ngomong apa saya ngomong apa dan saat buntu kami langsung tertawa bersama. Hahahaha. Tawa inilah membuat sang suami keluar kamar dan ikutan gabung. Sumpahhh.. Saya tidak tau si bapak ngomong apaa, nampaknya dia mengingat semua bahasa Inggris yg dia pelajari dulu. I am a teacher, you are a teacher. Bolak-balik dia lafalkan, saya benar-benar tidak mengerti maksudnya apa. Ternyata dia belajar To be, hahahaa. Dia ingin saya mengajaknya berbicara Bahasa Inggris, tapi selalu buntuu dan berujung tertawa. Hahaha. Dia masuk kekamarnya dan membawa 2 kaleng bir keluar.
Memberiku Bir sambil bilang chess (maksudnya: Cheers) dan sayapun meminumnya. Dia tetap berbicara bahasa Mandarin dan Inggris, pelan-pelam saya mulai mengerti. Hahahaha. Dia berhitung 1-10 dalam bahasa Inggris dan saya berhitung dalam bahasa Mandarin, banyak penumpang yg tertawa. Hahahhaa. Dia sibuk bilang chess, girls and boys. Terus diulang oleh si bapak. Kemudian dia menelepon ntah siapa, tapi yg jelas saya mendengar dia menjelaskan semua yg dia ucapkan tadi dan mendapat kosakata baru dari orang tersebut. Tahu kosakata barunya apa? We are friends now sambil menyalam tangan saya. hahahaha. Saya menjawab dengan nice to meet you. Dua orang petugas KA yg cantik dan semampai menghampiri saya, mereka meminta saya menuliskan saran dan kesan naik KA ini. Ya ampuunn... Hari yg menyenangkan dan orang-orang yg menyenangkan pula. Terimakasih Tuhan atas berkat dan penyertaan-Mu dalam perjalananku. Tiada tara rasa terimakasihku atas segala rahmat dan anugerah-Mu. Mau makan mie instant, sikat gigi dan tidur ahhh.
Lanzhou Railway Station,
Lanzhou Railway Station,
Good morning... Selamat Pagiii Lanzhou. Kereta tiba 1 jam lebih awal, ini KA terbagus yg aku naiki mulai dari Xian - Zhangye - Dunhuang. Kasurnya bersih, seprainya bersih dan semuanya rapi. Petugasnya hampir setiap 5 menit memperhatikan penumpang. Warm and friendly staff, o yah petugasnya juga bisa bahasa Inggris lhooo. Pagi ini saya bangun agak kesiangan sebenarnya, karena lelapnya tidur.
Selamat Datang di Lanzhou
Lanzhou Railway Station, Gansu Province
Seperti biasa, udara pagi dan malam itu dinginnya
minta ampun. Saya sudah menyiapkan diri sebelum turun dari KA, memakai segala yg
tebal kecuali make-up. Hahaha. Saya berjalan menuju pintu keluar dengan sibuk
memegang camera untuk mengambil foto. Kegiatan ini tidak berlangsung lama karena tangan kedinginan. Hahaha. Teringat kata Ca bahwa ada KFC di stasiun. Dia
mengatakan dari pintu keluar belok kanan saja dan menemukannya. Saya memesan
kopi seharga 8.5RMB (perkiraan paling mahal 5RMB, ternyata melebihi
ekspektasi).
Setelah bosan duduk berjam-jam d KFC, kaki ini mulai gatal untuk melakukan sedikit gerakan. Beranjak meninggalkan KFC dan berjalan sesuka hati. Disisi kiri Stasiun KA Lanzhou ada banyak restoran muslim dan umat muslim. Bahkan menurut saya ini lebih banyak dari yg saya lihat di Zhangye dan Dunhuang. Senang bisa melihat perbedaan dan merasakan langsung, bahkan perawakan mereka juga berbeda dibanding dengan provinsi lainnya. Sepertinya saya mulai jatuh hati dengan provinsi Gansu. Kembali meneruskan berjalan kaki lengkap dengan tas ransel, tripod, camera dan air mineral. Beberapa kali bertemu anak kecil yang memakai pakaian tebal tetapi ada robekan pas didua sisi: pantat dan burungnya. Masih ingat cerita soal kekepoan saya di KA beberapa hari yg lalu? Nahh saya sudah menemukan jawabannya dengan melihat langsung, hahahahaha. Benar dugaan saya, anak2 ini bisa pipis dan BAB kapan saja dan dimana sajaa. Yg terlihat pagi ini satu BAB pas di tepi jalan, satunya di trotoar dan satu lagi pipis di depan toko, bersihin anunya cuma pakai tisu dan gak dengan detail membersihkannya #tanpa disadari saya berhenti dan segitu memperhatikannya. Hahahaha. Intinya sudah ga kepo lagi.
Setelah pemandangan balita2 tadi, saya memasuki kawasan Pasar Tradisional yg tidak jauh dari Stasiun KA. Pasar ini juga didominasi restoran dan jajanan kaki lima muslim. Puas motret di pasar, aku memutuskan kembali ke Stasiun sambil menunggu Ca pulang kerja. Saya dan Ca janjian bertemu di Lanzhou sore ini.
Jam 18.00hrs Ca blm dtg juga. Aku msh berdiri d depan KFC sambil melirik kiri-kanan. 15 menit kemudian Ca pun muncul sambil berlari2. Saya memanggil dia dan kami langsung bersalaman lalu berjalan ke terminal bus yg berada tepat disebelah stasiun KA Lanzhou. Saya dibawa pergi ke toko souvenir seperti yg kami bicarakan kemarin lewat wechat. Selesai urusan pernak-pernik, dia membawa saya ke Yellow River (Mother's Bridge) Jembatan ini terlihat bagus dimalam hari dan banyak yg berfoto di jembatan ini, dia jg mengajakku melihat Mesjid yg sangat besar di Lanzhou, bahkan jauh lebih besar dari Mesjid di kota Dunhuang. Ca mengajakku makan dan dia menawarkan mau makan apa. Kebetulan tidak ingin apa-apa, saya jawab apa saja terserah kamu. Mau noodles juga okelah, kami mencari tempat makan yg enak. Akhirnya kami malah makan Dumpling sembari asik ngobrol soal perjalanan kemaren ke Zhangye dan Dunhuang. Ca juga menunjukkan beberapa foto bagus d provinsi Gansu, argghhh.... Saya pun mupenggggg.
Yellow River, Lanzhou, Gansu
Kami kembali ke stasiun KA naik Taksi, soalnya kalau naik bus macet dan panjang antriannya. KA berangkat pukul 22.36hrs, kami masih punya waktu sekitar 1jam lagi. Duduk di KFC dan Ca sibuk mengurus perjalananku dari Guangzhou ke Shenzhen. Dia menelpon kerabat2nya dan menuliskan dalam bahasa Mandarin lagi, hahaha. Betapa baiknya anak orang ini. Tak lama kami berpisah dan mengucap bye bye lagi. Dia berencana berhenti dari tmpatnya bekerja dan pergi berlibur selama 3bln. Mungkin kami akan ketemu di Indonesia atau di negara tetangga lainnya. Merencanakan liburan bareng. Terimakasih atas pertolongan dan jasa-jasamu Ca. Sangat senang bertemu denganmu.
Au Revoir Gansu,
Tibalah saatnya saya mengucapkan selamat jalan Provinsi Gansu. Betapa banyak kenangan bersamamu dan takkan terlupakan. Kereta Api tlah tiba, KA saya kali ini kembali ke awal lagi. Tidak sebagus dari Dunhuang ke Lanzhou, padahal ini perjalanan 38jam hikkss. Sekarang tgl 20, maka saya akan tiba d Guangzhou tanggal 22, artinya 2hr ga mandi + 1hr (yg kmren) jd total 3hr, hahaha. Ya ampunn.. Jorok kali. O yah, harga ticket Hard Sleeper kali ini 525.50RMB (mahalll aja).
Dua hari sudah di dalam KA, tiba di GuangZhou pukul 12.40hrs. Saya benar-benar puas tidur. Tiba di GuangZhou saya langsung cepat2 menuju pintu keluar dan sibuk mencari cara untuk tiba di Shenzhen. Tadinya sayapikir akan seribet petunjuk yg didapat dari Ca. Kereta Api dari Lanzhou tadi berhenti di Stasiun CRH. Begitu keluar saya langsung melihat papan informasi KA menuju Shenzhen. Petugas menyarankan saya ke tiket kaunter kemudian kembali lagi. Okay ticket sudah ditangan, saya menuju si petugas tadi tapi dia sudah hilang, hahaha. Hanya menunggu 20 menit lalu masuk ke KA. Rupanya naik Bullet Train, kesampean juga naik ini hahahhaa. Well... Ada yg membuat agak kesal yah. Kursi saya disamber orang lain, dia ngomong menggunakan bahasa Mandarin yg artinya tukar. Cuma gaya bahasanya membentak dan perintah, saya sangat tidak suka. Saya jawab saja 'WHAT???' THIS IS MY SEAT NUMBER. Lalu penumpang di depan yg sodaranya bicara dalam bahasa Inggris 'Switch'. Padahal seatku disebelah window... Harusnya kan dia ngomong pas beli tiket supaya tidak dipisah sama sodara2nya. Argghhh... Pengen ribut sebenernya, cuma karena lagi pake atribut organisasi tercinta, saya mengurungkannya. Jadi sangkut deh nih di dada #sesakkk.
Tiba di Hong Kong, saya langsung menuju Tsim Tsa Tsui area. Belum ada booking kamar sih, pede aja datang ke Chungkin Mansion dan dikerumunin banyak calo yg menyediakan kamar. Ada banyak hostel, guest house dan hotel di gedung Chungkin Mansion. Beberapa tempat yg bagus sudah pada penuh, hikss. Akhirnya saya dapat bed dormitory di Taipei Hostel dengan harga 168HKD. Sangat tidak rekomen tempat ini, bauuk, jorok, banyak serangga dan not friendly staff. Menitip barang saja harus bayar 30HKD. Marah kalau ditanyain banyak pertanyaan, hahaha. Anehhh. Yah untuk satu malam dan tidak ada pilihan lain, fine lah.
Selamat Pagi Hong Kong. Hari ini tanggal 23 Nov 2014. Rasanya malas mengingat tanggal, udah enak liburan. Hahahhaa. Pagi ini saya bangun jam 7, leyeh2 di kasur sampe jam 9. Lalu mandi dan jam 10.30am Check out. Langsung saya siapkan nota deposit dan kunci kamar, untuk mengambil 100HKD yg saya bayarkan kemarin sebagai uang jaminan (Deposit). Niat mau ninggalin barangpun sirnaaaaa, karena si ibu yg gak ramah dan harus bayar 30HKD. Jadi membawa cangkang (backpack) ini kemana-mana. Mengitari Hong Kong dengan tas ransel ini rasanya capek. Saya masuk Kowloon Park, disini senang sekali melihat makanan dan jajanan Indonesia yg dijual oleh para Tenaga Kerja Indonesia. Saya baru tahu bahwa setiap minggu mereka jual makanan dan jajanan Indonesia, juga ada yg jual pakaian. Mereka benar-benar membuat komunitas terjalin kuat. Tidak hanya Indonesia, saya juga melihat sekumpulan Tenaga Kerja Filipina.
Lelah dengan bawaan dibadan, saya memilih berhenti dan ngadem di dekat kolam yg tidak ada ikannya. Sekedar info tambahan aja, disini disediakan Free Wi fi. Tinggal connect dan log in saja. Disaat saya sibuk browsing dan chatting. Ada seorang Turis datang dan memberikan hpnya. Saya kira dia bilang 'want to take picture with u', lhaa... Saya tanya lagi donk, u meant taking picture together with me? Ehhh ternyata salahh, sudah ke GeeRan aja. Hahhahaa. Dia mnta tolong fotokan dekat kolam ini. Karena merasa tidak enak, dia bilang setelah itu foto dengan kamu juga. Hahahahhahaa. Selesai sesi pemotretan, ehhh malah betah dan nyambung ngobrol2. Lanjut berteman di fb dan sarapan bersama di McD. Dia membawa saya ke Big Clock, Promenade and Museum. Sepanjang percakapan kami, dia selalu menyebutkan dia akan ikut Wajib Militer selesai liburan di Hong Kong. Yg terucap dari mulutnya adalah Military shit, hahha. Saya menghiburnya dengan mengatakan, it's good for u to build ur personality and body. Hahaha. Dia nanya when will u come to Korea again? Saya menjawab buat apa? Saya sudah pernah kesana. Dengan entengnya dia jawab 'visiting me' dan kami sama2 tertawa, hahaha. Dasarrr anak gilaaa, namanya susahh.. Saya panggil dia Park. Dia baru berumur 21thn. Sampai berjumapa lagi Park, see you soon in somewhere else.
Lelah dengan bawaan dibadan, saya memilih berhenti dan ngadem di dekat kolam yg tidak ada ikannya. Sekedar info tambahan aja, disini disediakan Free Wi fi. Tinggal connect dan log in saja. Disaat saya sibuk browsing dan chatting. Ada seorang Turis datang dan memberikan hpnya. Saya kira dia bilang 'want to take picture with u', lhaa... Saya tanya lagi donk, u meant taking picture together with me? Ehhh ternyata salahh, sudah ke GeeRan aja. Hahhahaa. Dia mnta tolong fotokan dekat kolam ini. Karena merasa tidak enak, dia bilang setelah itu foto dengan kamu juga. Hahahahhahaa. Selesai sesi pemotretan, ehhh malah betah dan nyambung ngobrol2. Lanjut berteman di fb dan sarapan bersama di McD. Dia membawa saya ke Big Clock, Promenade and Museum. Sepanjang percakapan kami, dia selalu menyebutkan dia akan ikut Wajib Militer selesai liburan di Hong Kong. Yg terucap dari mulutnya adalah Military shit, hahha. Saya menghiburnya dengan mengatakan, it's good for u to build ur personality and body. Hahaha. Dia nanya when will u come to Korea again? Saya menjawab buat apa? Saya sudah pernah kesana. Dengan entengnya dia jawab 'visiting me' dan kami sama2 tertawa, hahaha. Dasarrr anak gilaaa, namanya susahh.. Saya panggil dia Park. Dia baru berumur 21thn. Sampai berjumapa lagi Park, see you soon in somewhere else.
Big Clock, Hong Kong
Promenade, Hong Kong
Selesai berwisata dan bertemu Park. Saya ketemu orang lain lagi hari ini. Namanya Gavin, warga negara UK yg sudah setahun lebih tinggal di HK. Dia bekerja sebagai Guru di sekolah sini. Orangnya asik dan ramah, sangat senang bercerita juga berbagi pengalaman. Kami terus mengobrol hingga pukul 5 sore. Gavin mengantarkan saya ke halte bus menuju Bandara. Terimakasih Gavin atas cerita dan hospitalitynya. Will see you in Jakarta next year. Thank you Lord for blessing my trip and giving me so much opportunities to meet great people. I have learned so much from this trip :)













